1. The use of Dangdut concerts to promote political parties in Indonesia contradicts the image each party portrays to the general public through written media. Do you agree or disagree with this statement?
2. A high rate of pollution is caused by public transportation in Indonesia. However, due to the cost, it is very difficult to modify the transportation to be Eco-friendly. What do you suggest the government should do in order to solve this problem?
3. The youth of Indonesia is losing touch with its cultural heritage. Do you agree with this statement? If so, what do you suggest the government should do to solve the problem?
4. Choose 3 pillars from the 10 pillars of LSPR and explain how they can be applied to a person’s everyday life. Use reasons and examples to support your response.
5. “freedom of press threatens the stability of society.” Do you agree of disagree with this statement?
6. What can Indonesia do to increase awareness of Autism?
7. What do you think are the main causes for Women Trafficking in South Asia?
8. What ways can the internation community reduce the instances of chile labour in multi-national factories?
9. People in Indonesia are now reverting to traditional medicine because of the lack of trust in the medical system and doctors in general. What can be done to improve the medical system and change its image?
10. Dynamite and cyanide fishing are still carried out within certain areas if Indonesia. What is the environmental impact on the ecosystem?
11. “due to their fame, an artist is expected to sacrifice a certain amount of personal provacy.” Do you agree or disagree with the statement?
12. What should be done to improve the quality of the Indonesian education system?
13.
Monday, 12 October 2009
the effect of global crisis
Sebagai akibat lanjut dari krisis sub-prime mortgage Departemen Keuangan Amerika mengambil alih perusahaan perumahan terbesar Fannie Mae dan Freddie Mac pada awal September ini. Yang lebih mengejutkan lagi adalah bangkrutnya Lehman Brothers dan Merrill Lynch (yang kemudian diakuisisi Bank of America). Walaupun bank sentral AS telah menyuntik pasar sebesar US$ 70 miliar, Indeks Dow Jones tetap jatuh 4,4%, atau terbesar sejak September 2001. Selanjutnya bursa-bursa Eropapun berjatuhan pada tanggal 15 September 2008.
Akhirnya Pemerintah Bush angkat tangan dan meminta Kongres menyetujui paket penyelamatan ekonomi berupa dana talangan pemerintah/bailout sebesar US$ 700 miliar pada tanggal 18 September 2008. Saat itu Kongres menolak yang direspon dengan terus bergejolaknya pasar saham dan diakhiri dengan turunnya indeks Dow Jones sebesar 778 poin, yang merupakan penurunan terbesar dalam sejarah pada tanggal 29 September 2008.
Walaupun Presiden Bush telah menandatangani Undang-undang Stabilisasi Ekonomi Darurat 2008 pada tanggal 3 Oktober 2008, bursa-bursa dunia terus meluncur ke bawah dan paling parah Indonesia. Bahkan, pada tanggal 8 Oktober pukul 11.06 WIB bursa saham Indonesia tutup sementara saat indeks 1.451,67, atau turun 10,3% dibandingkan hari sebelumnya.
Pada tanggal 27 Oktober, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun menjadi 1.166,4 dan rupiah anjlok ke level Rp 10.663/USD setelah sebelumnya pada 23 Oktober tembus nilai psikologis Rp 10.035/USD. Kondisi ini dianggap akan mengancam sektor finansial Indonesia, sehingga beberapa kebijakan diambil oleh pemerintah dan Bank Indonesia.
Kebijakan Yang Diambil
a. Pengamanan Pasar Finansial
Hal ini dilakukan dengan cara menghindari mark to market atas portofolio dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) serta memberi kebebasan emiten melakukan buyback pada satu hari bursa tanpa pembatasan pembelian dari volume perdagangan harian. Emiten juga diberi kesempatan untuk membeli kembali saham, terutama yang mengalami koreksi tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) saat IHSG anjlok dan perdagangan dihentikan otoritas bursa.
Disamping itu, pemerintah akan mempercepat pencairan belanja kementrian untuk melonggarkan likuiditas. Pemerintah juga dapat mengambil langkah hukum bagi pihak-pihak yang memunculkan rumor atau melanggar aturan dan menimbulkan kepanikan pasar saham. Revisi auto rejection (naik/turunnya harga saham maksimal hanya 10% dari sebelumnya 30%) juga diterapkan.
b. Pengamanan Likuiditas
Kebijakan ini direalisasikan dengan antara lain pemerintah akan menyediakan pasokan valas bagi korporasi, menurunkan rasio Giro Wajib Minumum (GWM) valas dari 3% menjadi 1%, pencabutan pasal 4 PBI No.7/1/2005 tentang batasan Posisi Saldo Harian Pinjaman Luar Negeri Jangka Pendek, penyederhanaan perhitungan GWM rupiah 7,5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terdiri dari 5% GWM utama (statutory reserve) dan 2,5% GWyang menurut Menteri Keuangan sudah mencakup 90% dana pihak ketiga dan 97% rekening nasabah.
Kebijakan lain adalah turunnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) Bank Indonesia (amandemen Pasal 11 UU No 3/2004) terkait dengan pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek, yang mana BI dapat menerima portofolio kredit yang berkolektibilitas lancar untuk dijadikan agunan pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek M sekunder (secondary reserve).
Kebijakan yang cukup melegakan nasabah bank adalah dinaikkannya jaminan dana nasabah dari Rp 100 juta menjadi Rp 2 miliar oleh Lembaga Penjamin Simpanan.
Dampak Ke Sektor Ekonomi
Jika dilihat pada survei persepsi pasar triwulan ketiga 2008 yang dilakukan oleh Bank Indonesia, nampak bahwa dunia usaha nampaknya masih optimis bahwa pertumbuhan ekonomi masih bisa mencapai level sedikit di atas 6,4% dengan tingkat inflasi 11,1%-12,0% dan nilai rupiah pada kisaran Rp 9.250-9.500/USD. Namun dengan melihat kondisi pasar finansial yang terus memburuk di permulaan triwulan keempat ini apakah ekonomi Indonesia masih akan dapat bertahan?
Dampak ke sektor ekonomi akan terjadi jika terjadi pelarian modal, yang mengakibatkan kurs rupiah melemah tajam dan suku bunga meningkat yang bertahan selama lebih daripada 3 bulan. Akibat anjloknya nilai rupiah, inflasi akibat impor (imported inflation) akan melonjak sehingga biaya produksi meningkat tajam. Kondisi ini akan mengakibatkan daya saing produk Indonesia menurun di pasar internasional karena harganya menjadi lebih mahal untuk mengejar naiknya harga bahan baku. Selain itu di dalam negeri juga akan tersaingi oleh produk sejenis dari negara-negara lain yang lebih murah harganya (Cina, Vietnam, dll).
Pada akhirnya, industri dalam negeri akan kesulitan berproduksi dan kondisi bertambah berat jika bank-bank juga untuk sementara menghentikan pemberian kredit melihat situasi yang kurang kondusif. Kemungkinan terburuk adalah ketidakmampuan industri untuk mengembalikan cicilan hutang kepada bank, yang pada akhirnya akan meningkatkan kredit bermasalah bank.
Menurut Chatib Basri (dalam Majalah Tempo, 26 Oktober 2008, hal 116-117) dampak krisis finansial yang bermula di AS mungkin agak lebih lambat dan kecil pengaruhnya pada ekonomi Indonesia, karena adanya integrasi jaringan produksi (production network) dimana negara-negara di Asia Tenggara banyak mengekspor bahan mentah dan barang antara ke pusat-pusat jaringan produksi seperti Cina, Korea dan Jepang. Walaupun demikian, karena konsumen akhir dari barang jadi itu juga negara-negara maju, cepat atau lambat Indonesia akan terkena dampak juga.
Perlambatan ekonomi AS juga akan menurunkan ekspor Indonesia ke AS yang sekitar 12 persen dari total ekspor Indonesia. Basri juga yakin bahwa ekonomi Indonesia akan terpengaruh dari sisi jalur finansial yang mungkin lebih besar daripada jalur perdagangan tadi. Karena kerugian akibat subprime mortgage yang berlanjut menjadi krisis finansial, lembaga-lembaga keuangan yang bermasalah tersebut akan memerlukan rekapitalisasi, yang implikasinya adalah menarik uangnya keluar dari berbagai negara. Para investor juga memindahkan asetnya ke instrumen yang lebih aman seperti US Treasury Bills dan obligasi pemerintah AS sehingga dolar menyusut jumlahnya di pasaran, sehingga beberapa mata uang terdepresiasi terhadap dolar.
Produk ekspor yang diperkirakan akan mengalami dampak akibat tingginya persaingan di pasar internasional terkait dengan pelemahan pasar di AS, Uni Eropa dan Jepang antara lain tekstil & produk tekstil (TPT), produk karet, produk kayu, pulp & kertas, minyak sawit dan produk-produk logam. Di sisi lain, sebagai pasar yang sangat potensial Indonesia dipastikan akan kebanjiranproduk impor terutama dari China, India, Singapura dan negara Asia lainnya yang mengalihkan pasar utama mereka dari AS ke Asia. Produk tersebut antara lain TPT, baja, produk elektronik, keramik, makanan & minuman serta produk kayu. Sementara itu rencana ekspansi industri baik berupa perluasan dan investasi terutama pada industri padat modal (baja, petrokimia, semen, alas kaki dan produk otomotif) diperkirakan akan ditunda menunggu kondisi kembali pulih.
Jika dilihat dari sisi fundamental ekonomi, sebenarnya dapat dikatakan bahwa kondisinya masih relatif kuat yang dicirikan oleh kredit bermasalah perbankan (Non Performing Loan/ NPL gross) yang lebih kecil daripada 5% yang menunjukkan masih sehatnya sistem intermediasi, Loan to Deposit Ratio (LDR) lebih kecil daripada 80% yang menunjukkan masih cukupnya likuiditas, Capital Adequacy Ratio (CAR) sekitar 16% (Agustus 2008) yang menunjukkan kuatnya permodalan bank, tingkat depresiasi rupiah lebih kecil daripada 5% yang menunjukkan stabilnya nilai rupiah, inflasi terkendali walaupun akhir-akhir ini melebihi angka psikologis 10%, cadangan devisa yang cukup untuk empat bulan impor (per 7 Oktober 2008 USD 52,4 miliar).
Walaupun demikian, sejumlah analis mempertanyakan beberapa masalah, misalnya ekonom Suharsono Sagir2 yang melihat bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih kurang kuat karena pertumbuhan ekonomi selama beberapa tahun terakhir ini tidak mampu melebihi tiga kali pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk saat ini menurut Biro Pusat Staistik (BPS) adalah 2,6%, sehingga agar fundamental ekonomi kuat dibutuhkan 7,8% pertumbuhan ekonomi. Hal yang belum pernah tercapai selama beberapa tahun terakhir ini.
Disamping itu, kontribusi sektor manufaktur juga mulai menurun, sehingga akan memperlemah fundamental ekonomi. Misalnya di tahun 2006 kontribusi manufaktur terhadap pendapatan nasional mencapai 27,5 % namun turun menjadi 27% tahun 2007 dan saat ini menjadi 26%.
Dampak ke Perbankan Indonesia
Menurut Raden Pardede (Ketua Pelaksana Forum Stabilitas Sistem Keuangan, Departemen Keuangan RI) dampak krisis ini diperkirakan tidak terlalu besar karena portfolionya sebagian besar di sektor riil (kredit), tidak pada instrumen derivatif. Dampak ke perbankan lebih pada kesulitan mendapat credit line di perbankan internasional karena hilangnya kepercayaan pasar terhadap bank-bank, bukan kepada perbankan nasional sendiri.
Adapun perbedaan penanganan krisis perbankan 1998 dengan saat ini adalah adanya kelemahan fundamental ekonomi saat itu seperti nilai rupiah yang over-valued, cadangan devisa yang kurang kuat, serta sistem perbankan yang terlalu ekspansif memberi kredit, dengan melanggar legal lending limit sementara modalnya lemah.
Disamping itu, saat krisis sudah semakin parah, tidak ada garis pemandu untuk menanggulangi krisis, bahkan pemerintah saat itu masih sangat percaya diri bahwa fundamental ekonomi masih kuat padahal krisis sudah di depan mata dan tidak berbuat apa-apa hingga akhirnya rupiah tembus lebih dari Rp 15.000/USD. Akibatnya Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dimanipulasi dan berubah fungsi menjadi keuntungan bagi para pemilik bank nakal. Pemilik bank dan deposan tidak terlalu dirugikan karena adanya program penjaminan. Oleh karena itu wajar jika saat ini pemerintah belajar dari masa lalu dengan tidak mau menjamin deposan hingga lebih daripada Rp 2 miliar (kurang lebih 90% dari total DPK).
Saat ini pemerintah bersama Bank Indonesia relatif sangat responsif dengan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan seperti tersebut di depan. Dampak utama dari krisis bagi bank adalah terjadinya perebutan dana terutama deposito setelah tahun ini bank-bank menggenjot tabungannya. Ini rasional bagi deposan mengingat pada kondisi krisis kecenderungan meraup bunga yang lebih tinggi yang paling mungkin tentunya dari deposito karena penanaman dana di pasar modal masih belum kondusif. Tentunya tenor yang paling disukai adalah yang singkat 1-3 bulan. Bank akan haus likuiditas akibat ekspansi yang besar di tahun 2008 ini. Per Agustus 2008 komposisi DPK adalah giro 26% (Rp 405 triliun), tabungan 29% (Rp 452 triliun) dan deposito 45% (Rp 676 triliun).
Dana-dana yang berasal dari lembaga keuangan non-bank seperti asuransi dan dana pensiun diperkirakan akan masuk ke perbankan karena masih trauma dengan penanaman dana di pasar modal. Hal yang harus diperhatikan bank terutama adalah nasabah dengan dana lebih dari Rp 2 miliar yang tidak dijamin LPS, yang tentunya rawan terhadap isu dan bisa menjadi pemicu terjadinya rush di bank.
Dampak lain dari krisis terhadap perbankan adalah: (i) kredit macet terutama di kartu kredit karena hal ini paling mudah dilakukan debitur; (ii) Kredit Perumahan (KPR) akan terhambat, kecuali kredit properti rumah/apartemen mewah dan kredit KPR untuk rumah pertama (Rp 150 juta sampai Rp 1 miliar); (iii) perusahaan multifinance akan kesulitan memperoleh kredit bank sehingga kredit otomotif dan barang elektronik akan terhambat juga. Sementara itu, kredit mikro Rp5 juta ke bawah akan semakin diminati namun juga menghadapi risiko yang semakin tinggi karena kredit ini bisa berubah penggunaan dari bisnis menjadi konsumsi, yang berakibat ketidakmampuan konsumen mengembalikan kreditnya.
Selain itu perbankan juga perlu mewaspadai kinerja debitur terutama di beberapa komoditas yang kinerjanya telah melemah antara lain TPT, produk kimia, produk elektronik, karet, coklat, kopi dan CPO.
Grafik prediksi lajunya inflasi dan pertumbuhan BI-rate periode Januari 2008-Oktober 2009.
Kesimpulan
Krisis finansial yang bermula di AS saat ini dampaknya telah meluas ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia. Dampak lanjutan dari krisis finansial ini diperkirakan akan mempengaruhi sektor riil. Ekonomi Indonesia diperkirakan akan terpengaruh oleh situasi ini, namun dampaknya diperkirakan tidak separah krisis 1998.
Referensi
www.detikfinance.com
www.danareksa-research.com
www.setneg.co.id
www.kompasiana.com
www.scribd.com
Akhirnya Pemerintah Bush angkat tangan dan meminta Kongres menyetujui paket penyelamatan ekonomi berupa dana talangan pemerintah/bailout sebesar US$ 700 miliar pada tanggal 18 September 2008. Saat itu Kongres menolak yang direspon dengan terus bergejolaknya pasar saham dan diakhiri dengan turunnya indeks Dow Jones sebesar 778 poin, yang merupakan penurunan terbesar dalam sejarah pada tanggal 29 September 2008.
Walaupun Presiden Bush telah menandatangani Undang-undang Stabilisasi Ekonomi Darurat 2008 pada tanggal 3 Oktober 2008, bursa-bursa dunia terus meluncur ke bawah dan paling parah Indonesia. Bahkan, pada tanggal 8 Oktober pukul 11.06 WIB bursa saham Indonesia tutup sementara saat indeks 1.451,67, atau turun 10,3% dibandingkan hari sebelumnya.
Pada tanggal 27 Oktober, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun menjadi 1.166,4 dan rupiah anjlok ke level Rp 10.663/USD setelah sebelumnya pada 23 Oktober tembus nilai psikologis Rp 10.035/USD. Kondisi ini dianggap akan mengancam sektor finansial Indonesia, sehingga beberapa kebijakan diambil oleh pemerintah dan Bank Indonesia.
Kebijakan Yang Diambil
a. Pengamanan Pasar Finansial
Hal ini dilakukan dengan cara menghindari mark to market atas portofolio dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) serta memberi kebebasan emiten melakukan buyback pada satu hari bursa tanpa pembatasan pembelian dari volume perdagangan harian. Emiten juga diberi kesempatan untuk membeli kembali saham, terutama yang mengalami koreksi tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) saat IHSG anjlok dan perdagangan dihentikan otoritas bursa.
Disamping itu, pemerintah akan mempercepat pencairan belanja kementrian untuk melonggarkan likuiditas. Pemerintah juga dapat mengambil langkah hukum bagi pihak-pihak yang memunculkan rumor atau melanggar aturan dan menimbulkan kepanikan pasar saham. Revisi auto rejection (naik/turunnya harga saham maksimal hanya 10% dari sebelumnya 30%) juga diterapkan.
b. Pengamanan Likuiditas
Kebijakan ini direalisasikan dengan antara lain pemerintah akan menyediakan pasokan valas bagi korporasi, menurunkan rasio Giro Wajib Minumum (GWM) valas dari 3% menjadi 1%, pencabutan pasal 4 PBI No.7/1/2005 tentang batasan Posisi Saldo Harian Pinjaman Luar Negeri Jangka Pendek, penyederhanaan perhitungan GWM rupiah 7,5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terdiri dari 5% GWM utama (statutory reserve) dan 2,5% GWyang menurut Menteri Keuangan sudah mencakup 90% dana pihak ketiga dan 97% rekening nasabah.
Kebijakan lain adalah turunnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) Bank Indonesia (amandemen Pasal 11 UU No 3/2004) terkait dengan pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek, yang mana BI dapat menerima portofolio kredit yang berkolektibilitas lancar untuk dijadikan agunan pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek M sekunder (secondary reserve).
Kebijakan yang cukup melegakan nasabah bank adalah dinaikkannya jaminan dana nasabah dari Rp 100 juta menjadi Rp 2 miliar oleh Lembaga Penjamin Simpanan.
Dampak Ke Sektor Ekonomi
Jika dilihat pada survei persepsi pasar triwulan ketiga 2008 yang dilakukan oleh Bank Indonesia, nampak bahwa dunia usaha nampaknya masih optimis bahwa pertumbuhan ekonomi masih bisa mencapai level sedikit di atas 6,4% dengan tingkat inflasi 11,1%-12,0% dan nilai rupiah pada kisaran Rp 9.250-9.500/USD. Namun dengan melihat kondisi pasar finansial yang terus memburuk di permulaan triwulan keempat ini apakah ekonomi Indonesia masih akan dapat bertahan?
Dampak ke sektor ekonomi akan terjadi jika terjadi pelarian modal, yang mengakibatkan kurs rupiah melemah tajam dan suku bunga meningkat yang bertahan selama lebih daripada 3 bulan. Akibat anjloknya nilai rupiah, inflasi akibat impor (imported inflation) akan melonjak sehingga biaya produksi meningkat tajam. Kondisi ini akan mengakibatkan daya saing produk Indonesia menurun di pasar internasional karena harganya menjadi lebih mahal untuk mengejar naiknya harga bahan baku. Selain itu di dalam negeri juga akan tersaingi oleh produk sejenis dari negara-negara lain yang lebih murah harganya (Cina, Vietnam, dll).
Pada akhirnya, industri dalam negeri akan kesulitan berproduksi dan kondisi bertambah berat jika bank-bank juga untuk sementara menghentikan pemberian kredit melihat situasi yang kurang kondusif. Kemungkinan terburuk adalah ketidakmampuan industri untuk mengembalikan cicilan hutang kepada bank, yang pada akhirnya akan meningkatkan kredit bermasalah bank.
Menurut Chatib Basri (dalam Majalah Tempo, 26 Oktober 2008, hal 116-117) dampak krisis finansial yang bermula di AS mungkin agak lebih lambat dan kecil pengaruhnya pada ekonomi Indonesia, karena adanya integrasi jaringan produksi (production network) dimana negara-negara di Asia Tenggara banyak mengekspor bahan mentah dan barang antara ke pusat-pusat jaringan produksi seperti Cina, Korea dan Jepang. Walaupun demikian, karena konsumen akhir dari barang jadi itu juga negara-negara maju, cepat atau lambat Indonesia akan terkena dampak juga.
Perlambatan ekonomi AS juga akan menurunkan ekspor Indonesia ke AS yang sekitar 12 persen dari total ekspor Indonesia. Basri juga yakin bahwa ekonomi Indonesia akan terpengaruh dari sisi jalur finansial yang mungkin lebih besar daripada jalur perdagangan tadi. Karena kerugian akibat subprime mortgage yang berlanjut menjadi krisis finansial, lembaga-lembaga keuangan yang bermasalah tersebut akan memerlukan rekapitalisasi, yang implikasinya adalah menarik uangnya keluar dari berbagai negara. Para investor juga memindahkan asetnya ke instrumen yang lebih aman seperti US Treasury Bills dan obligasi pemerintah AS sehingga dolar menyusut jumlahnya di pasaran, sehingga beberapa mata uang terdepresiasi terhadap dolar.
Produk ekspor yang diperkirakan akan mengalami dampak akibat tingginya persaingan di pasar internasional terkait dengan pelemahan pasar di AS, Uni Eropa dan Jepang antara lain tekstil & produk tekstil (TPT), produk karet, produk kayu, pulp & kertas, minyak sawit dan produk-produk logam. Di sisi lain, sebagai pasar yang sangat potensial Indonesia dipastikan akan kebanjiranproduk impor terutama dari China, India, Singapura dan negara Asia lainnya yang mengalihkan pasar utama mereka dari AS ke Asia. Produk tersebut antara lain TPT, baja, produk elektronik, keramik, makanan & minuman serta produk kayu. Sementara itu rencana ekspansi industri baik berupa perluasan dan investasi terutama pada industri padat modal (baja, petrokimia, semen, alas kaki dan produk otomotif) diperkirakan akan ditunda menunggu kondisi kembali pulih.
Jika dilihat dari sisi fundamental ekonomi, sebenarnya dapat dikatakan bahwa kondisinya masih relatif kuat yang dicirikan oleh kredit bermasalah perbankan (Non Performing Loan/ NPL gross) yang lebih kecil daripada 5% yang menunjukkan masih sehatnya sistem intermediasi, Loan to Deposit Ratio (LDR) lebih kecil daripada 80% yang menunjukkan masih cukupnya likuiditas, Capital Adequacy Ratio (CAR) sekitar 16% (Agustus 2008) yang menunjukkan kuatnya permodalan bank, tingkat depresiasi rupiah lebih kecil daripada 5% yang menunjukkan stabilnya nilai rupiah, inflasi terkendali walaupun akhir-akhir ini melebihi angka psikologis 10%, cadangan devisa yang cukup untuk empat bulan impor (per 7 Oktober 2008 USD 52,4 miliar).
Walaupun demikian, sejumlah analis mempertanyakan beberapa masalah, misalnya ekonom Suharsono Sagir2 yang melihat bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih kurang kuat karena pertumbuhan ekonomi selama beberapa tahun terakhir ini tidak mampu melebihi tiga kali pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk saat ini menurut Biro Pusat Staistik (BPS) adalah 2,6%, sehingga agar fundamental ekonomi kuat dibutuhkan 7,8% pertumbuhan ekonomi. Hal yang belum pernah tercapai selama beberapa tahun terakhir ini.
Disamping itu, kontribusi sektor manufaktur juga mulai menurun, sehingga akan memperlemah fundamental ekonomi. Misalnya di tahun 2006 kontribusi manufaktur terhadap pendapatan nasional mencapai 27,5 % namun turun menjadi 27% tahun 2007 dan saat ini menjadi 26%.
Dampak ke Perbankan Indonesia
Menurut Raden Pardede (Ketua Pelaksana Forum Stabilitas Sistem Keuangan, Departemen Keuangan RI) dampak krisis ini diperkirakan tidak terlalu besar karena portfolionya sebagian besar di sektor riil (kredit), tidak pada instrumen derivatif. Dampak ke perbankan lebih pada kesulitan mendapat credit line di perbankan internasional karena hilangnya kepercayaan pasar terhadap bank-bank, bukan kepada perbankan nasional sendiri.
Adapun perbedaan penanganan krisis perbankan 1998 dengan saat ini adalah adanya kelemahan fundamental ekonomi saat itu seperti nilai rupiah yang over-valued, cadangan devisa yang kurang kuat, serta sistem perbankan yang terlalu ekspansif memberi kredit, dengan melanggar legal lending limit sementara modalnya lemah.
Disamping itu, saat krisis sudah semakin parah, tidak ada garis pemandu untuk menanggulangi krisis, bahkan pemerintah saat itu masih sangat percaya diri bahwa fundamental ekonomi masih kuat padahal krisis sudah di depan mata dan tidak berbuat apa-apa hingga akhirnya rupiah tembus lebih dari Rp 15.000/USD. Akibatnya Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dimanipulasi dan berubah fungsi menjadi keuntungan bagi para pemilik bank nakal. Pemilik bank dan deposan tidak terlalu dirugikan karena adanya program penjaminan. Oleh karena itu wajar jika saat ini pemerintah belajar dari masa lalu dengan tidak mau menjamin deposan hingga lebih daripada Rp 2 miliar (kurang lebih 90% dari total DPK).
Saat ini pemerintah bersama Bank Indonesia relatif sangat responsif dengan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan seperti tersebut di depan. Dampak utama dari krisis bagi bank adalah terjadinya perebutan dana terutama deposito setelah tahun ini bank-bank menggenjot tabungannya. Ini rasional bagi deposan mengingat pada kondisi krisis kecenderungan meraup bunga yang lebih tinggi yang paling mungkin tentunya dari deposito karena penanaman dana di pasar modal masih belum kondusif. Tentunya tenor yang paling disukai adalah yang singkat 1-3 bulan. Bank akan haus likuiditas akibat ekspansi yang besar di tahun 2008 ini. Per Agustus 2008 komposisi DPK adalah giro 26% (Rp 405 triliun), tabungan 29% (Rp 452 triliun) dan deposito 45% (Rp 676 triliun).
Dana-dana yang berasal dari lembaga keuangan non-bank seperti asuransi dan dana pensiun diperkirakan akan masuk ke perbankan karena masih trauma dengan penanaman dana di pasar modal. Hal yang harus diperhatikan bank terutama adalah nasabah dengan dana lebih dari Rp 2 miliar yang tidak dijamin LPS, yang tentunya rawan terhadap isu dan bisa menjadi pemicu terjadinya rush di bank.
Dampak lain dari krisis terhadap perbankan adalah: (i) kredit macet terutama di kartu kredit karena hal ini paling mudah dilakukan debitur; (ii) Kredit Perumahan (KPR) akan terhambat, kecuali kredit properti rumah/apartemen mewah dan kredit KPR untuk rumah pertama (Rp 150 juta sampai Rp 1 miliar); (iii) perusahaan multifinance akan kesulitan memperoleh kredit bank sehingga kredit otomotif dan barang elektronik akan terhambat juga. Sementara itu, kredit mikro Rp5 juta ke bawah akan semakin diminati namun juga menghadapi risiko yang semakin tinggi karena kredit ini bisa berubah penggunaan dari bisnis menjadi konsumsi, yang berakibat ketidakmampuan konsumen mengembalikan kreditnya.
Selain itu perbankan juga perlu mewaspadai kinerja debitur terutama di beberapa komoditas yang kinerjanya telah melemah antara lain TPT, produk kimia, produk elektronik, karet, coklat, kopi dan CPO.
Grafik prediksi lajunya inflasi dan pertumbuhan BI-rate periode Januari 2008-Oktober 2009.
Kesimpulan
Krisis finansial yang bermula di AS saat ini dampaknya telah meluas ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia. Dampak lanjutan dari krisis finansial ini diperkirakan akan mempengaruhi sektor riil. Ekonomi Indonesia diperkirakan akan terpengaruh oleh situasi ini, namun dampaknya diperkirakan tidak separah krisis 1998.
Referensi
www.detikfinance.com
www.danareksa-research.com
www.setneg.co.id
www.kompasiana.com
www.scribd.com
the classical school
Robert Townsend’s advice about organization charts in Up the Organization demonstrates the existence of the classical school :
You probably spend a major faction of your time dealing directly with people who aren’t really above or below you on the chart. If people are off to one side, but below you on the chart, you may be tempted to ignore them. Summon them to your office or at least assume that they will do whatever you want. The head of the mail room, or the chief telephone operator may hold your destiny someday. Figure out who is important to your effectiveness and then treat him (or her)that way. It wouldn’t hurt to assume, in short, that every man-and woman-is a human being, not a rectangle.
The classical theory of organization is concerned almost entirely with the design and structure of organizations, not with people. The chief tool is the organization chart. Around World War I, classical theory evolved from the scientific management movement in which man was described as a rational, economic being who can best be motivated to work by such carrot and stick techniques as piecework systems, bonus systems, time-and-motion studies and cost-figuring systems.
Given the nature of times, it was easy to motivate workers by appealing to their most basic human needs-needs heavily dependent upon money fulfillment.
The example of scientific management in practice concerns the manager of an agency who requires all employees to time their interviews with clients, record the number of minutes involved in clerical work, and calculate the average length of an interview and the average time involved in written work.
Two foremost scholars of the classical school were Henry Fayol and Max Webber. Others were James Mooney and Alan Reiley., Luther Glick, and Lyndall Urwick, and Chester Barnard.
Among the recommended principles of management, Fayol included the following :
1. Division of work (specialization)
2. Authority and responsibility (power)
3. Discipline (obedience)
4. Unity of command (one boss)
5. Unity of direction (one plan)
6. Subordination if individual interest to general interest (corncern for the organization first)
7. Remuneration of personnel (fair play)
8. Centralization (consolidation)
9. Scalar chain (chain of command)
10. Order (everyone has a unique position)
11. Equity (firm but fair)
12. Stability of tenure of personnel (low turnover)
13. Initiative (thinking out a plan)
14. Esprit de corps (high morale)
Max webber took issue with Fayol’s view of classical organization theory, distinguishing between inherent authority (traditional power, which may have been illegitimate) and legitimate authority (earned, respected, established by norms, rational and legal). Legitimate authority provided the foundation for what Weber called “bureaucracy”.
Some of the problems associated with the federal bureaucracy were publicized recently by a presidential commision that investigated paperwork in government. According to the commission, veteran bureaucrats are skilled at evading issues, shifting responsibilities, and diverting work to someone else.
You probably spend a major faction of your time dealing directly with people who aren’t really above or below you on the chart. If people are off to one side, but below you on the chart, you may be tempted to ignore them. Summon them to your office or at least assume that they will do whatever you want. The head of the mail room, or the chief telephone operator may hold your destiny someday. Figure out who is important to your effectiveness and then treat him (or her)that way. It wouldn’t hurt to assume, in short, that every man-and woman-is a human being, not a rectangle.
The classical theory of organization is concerned almost entirely with the design and structure of organizations, not with people. The chief tool is the organization chart. Around World War I, classical theory evolved from the scientific management movement in which man was described as a rational, economic being who can best be motivated to work by such carrot and stick techniques as piecework systems, bonus systems, time-and-motion studies and cost-figuring systems.
Given the nature of times, it was easy to motivate workers by appealing to their most basic human needs-needs heavily dependent upon money fulfillment.
The example of scientific management in practice concerns the manager of an agency who requires all employees to time their interviews with clients, record the number of minutes involved in clerical work, and calculate the average length of an interview and the average time involved in written work.
Two foremost scholars of the classical school were Henry Fayol and Max Webber. Others were James Mooney and Alan Reiley., Luther Glick, and Lyndall Urwick, and Chester Barnard.
Among the recommended principles of management, Fayol included the following :
1. Division of work (specialization)
2. Authority and responsibility (power)
3. Discipline (obedience)
4. Unity of command (one boss)
5. Unity of direction (one plan)
6. Subordination if individual interest to general interest (corncern for the organization first)
7. Remuneration of personnel (fair play)
8. Centralization (consolidation)
9. Scalar chain (chain of command)
10. Order (everyone has a unique position)
11. Equity (firm but fair)
12. Stability of tenure of personnel (low turnover)
13. Initiative (thinking out a plan)
14. Esprit de corps (high morale)
Max webber took issue with Fayol’s view of classical organization theory, distinguishing between inherent authority (traditional power, which may have been illegitimate) and legitimate authority (earned, respected, established by norms, rational and legal). Legitimate authority provided the foundation for what Weber called “bureaucracy”.
Some of the problems associated with the federal bureaucracy were publicized recently by a presidential commision that investigated paperwork in government. According to the commission, veteran bureaucrats are skilled at evading issues, shifting responsibilities, and diverting work to someone else.
SWOT analysis
Strengths :
Hal-hal yang kami anggap merupakan kekuatan kami antara lain, keunikan desain produk, dengan bahan yang berkualitas tinggi menjadikan produk kami dikategorikan sebagai unggul. Pemilihan barang-barang yang diimpor juga sangat selektif. Kami hanya memilih produk-produk impor yang kami rasa akan menjadi target dari pangsa pasar kami di Indonesia. Desain produk dengan berbagai desainer kami yang berkualitas sangatlah menjaga mutu dari busana-busana tersebut.
Weaknesses:
Tiadanya ketersediaan pengantaran jasa merupakan salah satu kelemahan dari dalam kami sendiri. Hal ini karena biaya operasional akan sangat meningkat. Selain itu dengan berbagai macam jenis dan ukuran anjing yang sangat bervariasi, maka pemilihan busana harus sangat hati-hati pada saat transaksi pembelian terjadi. Karena itulah disarankan lebih baik membeli busana tersebut dengan cara membawa hewan peliharaan masing-masing.
Opportunities:
Minimnya outlet-outlet atau toko-toko yang bergerak di bidang retail busana anjing di Indonesia, membuat perusahaan kami optimis untuk dapat merebut pangsa pasar tersebut. Terlebih dengan letak yang strategis membuat pelanggan kami sangat memadai untuk mendapatkan produk-produk kami tersebut.
Threads:
Ancaman yang mungkin datang antara lain, dengan adanya berbagai akses pembelian yang digunakan oleh para kompetitor untuk mengantarkan pesanan tersebut ke rumah pelanggan masing-masing dengan mudah, contohnya dengan internet, atau dengan paket pengiriman kilat, pembayaran dengan kartu kredit atau debit yang memudahkan calon target audience untuk dapat bertransaksi dengan baik.
Hal-hal yang kami anggap merupakan kekuatan kami antara lain, keunikan desain produk, dengan bahan yang berkualitas tinggi menjadikan produk kami dikategorikan sebagai unggul. Pemilihan barang-barang yang diimpor juga sangat selektif. Kami hanya memilih produk-produk impor yang kami rasa akan menjadi target dari pangsa pasar kami di Indonesia. Desain produk dengan berbagai desainer kami yang berkualitas sangatlah menjaga mutu dari busana-busana tersebut.
Weaknesses:
Tiadanya ketersediaan pengantaran jasa merupakan salah satu kelemahan dari dalam kami sendiri. Hal ini karena biaya operasional akan sangat meningkat. Selain itu dengan berbagai macam jenis dan ukuran anjing yang sangat bervariasi, maka pemilihan busana harus sangat hati-hati pada saat transaksi pembelian terjadi. Karena itulah disarankan lebih baik membeli busana tersebut dengan cara membawa hewan peliharaan masing-masing.
Opportunities:
Minimnya outlet-outlet atau toko-toko yang bergerak di bidang retail busana anjing di Indonesia, membuat perusahaan kami optimis untuk dapat merebut pangsa pasar tersebut. Terlebih dengan letak yang strategis membuat pelanggan kami sangat memadai untuk mendapatkan produk-produk kami tersebut.
Threads:
Ancaman yang mungkin datang antara lain, dengan adanya berbagai akses pembelian yang digunakan oleh para kompetitor untuk mengantarkan pesanan tersebut ke rumah pelanggan masing-masing dengan mudah, contohnya dengan internet, atau dengan paket pengiriman kilat, pembayaran dengan kartu kredit atau debit yang memudahkan calon target audience untuk dapat bertransaksi dengan baik.
steeple
Managing our environmental impacts
After more than a decade of action, we continue to make progress on managing the environmental impacts of our own operations. In some areas, our impacts extend far beyond our own operations. For example, while since 1995 we have more than halved the amount of water we use in our manufacturing (per tonne of production), this still only accounts for less than 5% of the water use in the total lifecycle of our products.
On the 'upstream' side, ie in our supply chain, we use our Business Partner Code to ensure that our suppliers meet our expectations on environmental and social impacts. With over two-thirds of our raw materials coming from agriculture, our Sustainable Agriculture Programme has a key role in managing our upstream impacts.
On the 'downstream' side – when consumers use our products – we work in partnership with various organisations and engage with consumers to achieve improvements in our wider environmental footprint, for example on water use. Our research and product development teams also aim to reduce the environmental impacts of our products during consumer use through reformulation and other innovations.
Consumer communications
We are guided by four principles in our communications with consumers.
• we are committed to building trust through responsible practices and through transparent communication – both directly to consumers and indirectly through other key stakeholders and thought-leaders
• it is our responsibility to ensure that our products are safe and that we provide clear information on their use and any risks that are associated with their use
• we fully support a consumer's right to know what is in our products and will be transparent in terms of ingredients, nutrition values and the health and beauty properties of our products
• we will use a combination of channels, which includes product labels, websites, carelines and/or consumer leaflets to communicate openly with our consumers
Nutrition labelling
We are committed to providing information to consumers to enable them to make informed choices. This means transparency on the nutrition values of our food products through on-pack labelling, telephone carelines and websites.
We continue to work with national governments, retailers and other partners on how best to promote better information. In response to growing public demand in some markets for improved nutritional labelling of food products, we are working to provide clear, simple information for consumers.
In May 2006 the Choices programme was launched. It uses a front-of-pack stamp to make it easier for consumers to identify healthier options – foods and drinks that are in line with internationally accepted dietary advice for fat, sugar and salt. The front-of pack stamp is complemented by back-of pack nutrition information. Following the launch in the US, Netherlands and Belgium in 2006, we plan to roll it out to all our major markets by the end of 2007. Over a third of products already qualify. The programme is open for our partners in the food chain and will be governed by an independent Foundation.
This independent Choices International Foundation is being established with responsibility for overseeing the use of the Choices stamp. The aim is for Choices to become an independent, international standard used across the food industry with its qualifying criteria regularly reviewed by an independent, international committee of food and nutrition scientists.
In addition, we are participating in a voluntary CIAA (Confederation of Food and Drink Industries of the European Union) nutritional labelling initiative which complements Choices.
Under this initiative, on the back of all our packs we will show the levels of eight key nutrients (energy, protein, carbohydrates, sugars, fat, saturates, fibre and sodium) per 100gm/ml, and four of these (energy, total fat, sugar and salt) as percentages of guideline daily amounts (GDA). We will also show calories on the front of packs as a percentage of GDA.
Unilever's use of packaging materials
Our packaging must be both functional and attractive while keeping the impact on the environment as low as possible. We are working to make this aspect of our business more sustainable. There are five key elements to our approach
• Remove: to eliminate, where possible, unnecessary layers of packaging such as outer cartons and shrink-wrap film – an area where our retail customers are increasingly setting reduction targets.
• Reduce: to reduce packages to the optimal size and weight for their contents.
• Reuse: to reuse packaging from the materials we receive at our factories.
• Renew: to maximise the proportion of packaging from renewable resources and to investigate the technical feasibility of biodegradable and compostable materials. In 2004, 83% of our European paper-based packaging came from sustainable sources.
• Recycle: to increase the use of recycled, recyclable and single-material components in packaging for easy sorting and recycling at the end of its use.
The Unilever Packaging Group leads the development of our strategies on sustainable packaging. The Group is studying how we develop and specify our packaging to minimise impact on the environment.
As these issues affect the whole consumer goods industry, we work in partnership with industry and stakeholder groups to explore joint action. We continue to work with the Sustainable Packaging Coalition, a group of over 50 companies, comprising packaging producers, users and retailers.
Recycling packaging
In Brazil, our brands Knorr, AdeS, Omo and Rexona are working in partnership with supermarket Pão de Açúcar to promote CEMPRE, a packaging recycling scheme for shoppers. Since the launch of this award-winning project in 2001, 101 recycling stations have been established in 18 cities, working in partnership with 15 rag-picker co-operatives to recycle nearly 15 000 tonnes of packaging.
Reducing packaging
• The redesign of our Suave shampoo bottles in the US has allowed an annual saving in plastic resin of almost 150 tonnes. This is the equivalent of 15 million fewer shampoo bottles being thrown away each year.
• By eliminating an outer carton from our Knorr vegetable mix and creating a new shipping and display box, we halved the packaging, resulting in 280 fewer pallets and six fewer trucks a year to transport the same quantity.
• Reducing the width of the outer box of Lipton soup cartons saved 154 tonnes of card
Our approach
During 2006 we continued the process of restructuring our business to improve competitiveness and support our growth strategy. The new structure is simpler and supports faster decision-making through a streamlined executive. Since 2004, we have reduced our senior management headcount by around 30%.
As a result of this restructuring and further divestments, the number of people we employed fell by around 27 000, a reduction of 13%. The sale of our tea plantations in India accounted for 18 000 of these, and the sale of the majority of our frozen foods business in Europe for a further 3 000.
In 2006 we also signed a seven-year outsourcing contract with Accenture to handle all transaction processing and administration support services for our human resources function.
In implementing our restructuring programmes we seek to act with integrity and follow agreed consultation processes. We aim to treat those affected fairly – and help them to find alternative employment if redundancy is necessary. From employee consultation, we recognise that this level of organisational change is a source of concern. We take these concerns seriously and throughout the process we communicate regularly to ensure that people understand what is happening.
Diversity & inclusion
Between 2000 and 2006, the proportion of women in management increased from 25% to 33%. We have 24 nationalities among our 123 most senior managers. In 2006 our Global Diversity Board, led by our Group Chief Executive, set up detailed diversity monitoring to track the progress of our diversity initiatives.
Health & safety
Our goal is the elimination of all employee and contractor fatalities with continual improvements in overall health and safety performance. Our internal global health and safety standards are based on the international standard OHSAS 18001.
Our total recordable accident frequency rate fell from 0.39 in 2005 to 0.33 in 2006. However, most regrettably, five employees and two contractors lost their lives. All employee fatalities resulted from car accidents. The lessons learnt from these incidents were communicated throughout the organisation.
Safe travel and transport therefore remain a priority area. The greatest challenge we face is in countries that lack basic road safety infrastructure and enforcement. During 2006, Safe Driving Teams were set up in our local companies. Led by a senior manager, these teams are now implementing country specific action plans.
Fatal accidents* 1996–2006
Accident rate** 1996–2006
Accident Frequency Rate (AFR) – Workplace accidents resulting in time off work or some temporary restriction in the work that the injured person can undertake.
Total Recordable Frequency Rates (TRFR) – All workplace accidents, excluding only those that require simple first aid treatment.
Investing in people
In line with our new business priorities, in 2006 we continued to strengthen the capabilities of our leadership teams and those working in consumer marketing and customer development. For example, the marketing function ran nearly 500 training sessions in 2006 covering around 40% of people in marketing. A new global approach to learning was designed to develop general leadership and professional skills, which we will roll out to all managers during 2007.
In 2006 we also introduced our People Vitality programme to enhance the personal well-being and effectiveness of our people at work. Hindustan Lever initiated a programme which assesses employees' body mass, blood pressure, cholesterol and blood sugar levels. It also provides nutrition, health and exercise advice. Over 10 000 employees have taken part so far, and each will be followed up annually.
Several leadership teams – including the Unilever Executive – also took part in a well-being programme. Each received an individual health check, which was then used to design a personal plan to improve their nutrition, fitness and mental resilience.
Action on HIV/AIDS
We have long-standing HIV/AIDS support programmes in sub-Saharan Africa, and in 2006 our Kericho tea estate in Kenya won the Excellence in the Workplace award from the Global Business Coalition on HIV/AIDS. Building on our work in Africa, we have implemented a more comprehensive approach to programme development in other regions too, with a particular focus on a number of Asian countries.
In September 2006, following a successful 12-month pilot of a scheme involving Unilever and four other multinationals, the World Economic Forum published its 'Guidelines to Protect your Supply Chain', outlining ways for businesses to work with smaller suppliers on awareness of HIV/AIDS prevention and treatment.
Living our values
Each year, country chairmen provide positive assurance that their business adheres to our Code of Business Principles. The Code provides a clear set of ethical guidelines to enable employees to uphold our business integrity. Our prohibition against the giving or receiving of bribes is absolute. Moreover, we make clear that no employee will be penalised for any loss of business resulting from the rejection of bribery. The Code is communicated to all employees and translated into 47 languages, with processes in place to raise concerns and report breaches. In 2006, we dismissed 68 people (compared to 66 in 2005) for breaches of our Code.
We abide by core ILO labour standards and our Code sets out requirements on protecting labour rights. In 2006 we surveyed our 35 largest businesses which showed that our youngest employees, aged 15, are in Germany, Switzerland and the US, compliant with local legislation.
In all these countries, wages paid by Unilever exceed the minimum wage established by the relevant national authority. 40% of our eligible employees are members of trade unions.
Age of youngest employees 2006
Based on our 35 largest businesses.
Age Country
15 Germany, Switzerland, United States
16 United Kingdom
17 China, South Africa
18 Argentina, Australia, Brazil, Colombia, Czech Republic,
France, Indonesia, Ireland, Japan, Mexico, Netherlands,
Spain, Sweden, Turkey
* In addition to the recordable fatality data in the chart, where such accidents may be deemed associated with our operations, Unilever requires its organisations to report fatal accidents involving members of the public, and those which occur at third-party contract manufacturers where they are producing goods and services for Unilever.
In common with the other companies in our industrial sector, these incidents are only reportable internally.
** In line with industry best practice, we include in our definition of an 'employee', temporary staff and contractors who work under our direct supervision.
After more than a decade of action, we continue to make progress on managing the environmental impacts of our own operations. In some areas, our impacts extend far beyond our own operations. For example, while since 1995 we have more than halved the amount of water we use in our manufacturing (per tonne of production), this still only accounts for less than 5% of the water use in the total lifecycle of our products.
On the 'upstream' side, ie in our supply chain, we use our Business Partner Code to ensure that our suppliers meet our expectations on environmental and social impacts. With over two-thirds of our raw materials coming from agriculture, our Sustainable Agriculture Programme has a key role in managing our upstream impacts.
On the 'downstream' side – when consumers use our products – we work in partnership with various organisations and engage with consumers to achieve improvements in our wider environmental footprint, for example on water use. Our research and product development teams also aim to reduce the environmental impacts of our products during consumer use through reformulation and other innovations.
Consumer communications
We are guided by four principles in our communications with consumers.
• we are committed to building trust through responsible practices and through transparent communication – both directly to consumers and indirectly through other key stakeholders and thought-leaders
• it is our responsibility to ensure that our products are safe and that we provide clear information on their use and any risks that are associated with their use
• we fully support a consumer's right to know what is in our products and will be transparent in terms of ingredients, nutrition values and the health and beauty properties of our products
• we will use a combination of channels, which includes product labels, websites, carelines and/or consumer leaflets to communicate openly with our consumers
Nutrition labelling
We are committed to providing information to consumers to enable them to make informed choices. This means transparency on the nutrition values of our food products through on-pack labelling, telephone carelines and websites.
We continue to work with national governments, retailers and other partners on how best to promote better information. In response to growing public demand in some markets for improved nutritional labelling of food products, we are working to provide clear, simple information for consumers.
In May 2006 the Choices programme was launched. It uses a front-of-pack stamp to make it easier for consumers to identify healthier options – foods and drinks that are in line with internationally accepted dietary advice for fat, sugar and salt. The front-of pack stamp is complemented by back-of pack nutrition information. Following the launch in the US, Netherlands and Belgium in 2006, we plan to roll it out to all our major markets by the end of 2007. Over a third of products already qualify. The programme is open for our partners in the food chain and will be governed by an independent Foundation.
This independent Choices International Foundation is being established with responsibility for overseeing the use of the Choices stamp. The aim is for Choices to become an independent, international standard used across the food industry with its qualifying criteria regularly reviewed by an independent, international committee of food and nutrition scientists.
In addition, we are participating in a voluntary CIAA (Confederation of Food and Drink Industries of the European Union) nutritional labelling initiative which complements Choices.
Under this initiative, on the back of all our packs we will show the levels of eight key nutrients (energy, protein, carbohydrates, sugars, fat, saturates, fibre and sodium) per 100gm/ml, and four of these (energy, total fat, sugar and salt) as percentages of guideline daily amounts (GDA). We will also show calories on the front of packs as a percentage of GDA.
Unilever's use of packaging materials
Our packaging must be both functional and attractive while keeping the impact on the environment as low as possible. We are working to make this aspect of our business more sustainable. There are five key elements to our approach
• Remove: to eliminate, where possible, unnecessary layers of packaging such as outer cartons and shrink-wrap film – an area where our retail customers are increasingly setting reduction targets.
• Reduce: to reduce packages to the optimal size and weight for their contents.
• Reuse: to reuse packaging from the materials we receive at our factories.
• Renew: to maximise the proportion of packaging from renewable resources and to investigate the technical feasibility of biodegradable and compostable materials. In 2004, 83% of our European paper-based packaging came from sustainable sources.
• Recycle: to increase the use of recycled, recyclable and single-material components in packaging for easy sorting and recycling at the end of its use.
The Unilever Packaging Group leads the development of our strategies on sustainable packaging. The Group is studying how we develop and specify our packaging to minimise impact on the environment.
As these issues affect the whole consumer goods industry, we work in partnership with industry and stakeholder groups to explore joint action. We continue to work with the Sustainable Packaging Coalition, a group of over 50 companies, comprising packaging producers, users and retailers.
Recycling packaging
In Brazil, our brands Knorr, AdeS, Omo and Rexona are working in partnership with supermarket Pão de Açúcar to promote CEMPRE, a packaging recycling scheme for shoppers. Since the launch of this award-winning project in 2001, 101 recycling stations have been established in 18 cities, working in partnership with 15 rag-picker co-operatives to recycle nearly 15 000 tonnes of packaging.
Reducing packaging
• The redesign of our Suave shampoo bottles in the US has allowed an annual saving in plastic resin of almost 150 tonnes. This is the equivalent of 15 million fewer shampoo bottles being thrown away each year.
• By eliminating an outer carton from our Knorr vegetable mix and creating a new shipping and display box, we halved the packaging, resulting in 280 fewer pallets and six fewer trucks a year to transport the same quantity.
• Reducing the width of the outer box of Lipton soup cartons saved 154 tonnes of card
Our approach
During 2006 we continued the process of restructuring our business to improve competitiveness and support our growth strategy. The new structure is simpler and supports faster decision-making through a streamlined executive. Since 2004, we have reduced our senior management headcount by around 30%.
As a result of this restructuring and further divestments, the number of people we employed fell by around 27 000, a reduction of 13%. The sale of our tea plantations in India accounted for 18 000 of these, and the sale of the majority of our frozen foods business in Europe for a further 3 000.
In 2006 we also signed a seven-year outsourcing contract with Accenture to handle all transaction processing and administration support services for our human resources function.
In implementing our restructuring programmes we seek to act with integrity and follow agreed consultation processes. We aim to treat those affected fairly – and help them to find alternative employment if redundancy is necessary. From employee consultation, we recognise that this level of organisational change is a source of concern. We take these concerns seriously and throughout the process we communicate regularly to ensure that people understand what is happening.
Diversity & inclusion
Between 2000 and 2006, the proportion of women in management increased from 25% to 33%. We have 24 nationalities among our 123 most senior managers. In 2006 our Global Diversity Board, led by our Group Chief Executive, set up detailed diversity monitoring to track the progress of our diversity initiatives.
Health & safety
Our goal is the elimination of all employee and contractor fatalities with continual improvements in overall health and safety performance. Our internal global health and safety standards are based on the international standard OHSAS 18001.
Our total recordable accident frequency rate fell from 0.39 in 2005 to 0.33 in 2006. However, most regrettably, five employees and two contractors lost their lives. All employee fatalities resulted from car accidents. The lessons learnt from these incidents were communicated throughout the organisation.
Safe travel and transport therefore remain a priority area. The greatest challenge we face is in countries that lack basic road safety infrastructure and enforcement. During 2006, Safe Driving Teams were set up in our local companies. Led by a senior manager, these teams are now implementing country specific action plans.
Fatal accidents* 1996–2006
Accident rate** 1996–2006
Accident Frequency Rate (AFR) – Workplace accidents resulting in time off work or some temporary restriction in the work that the injured person can undertake.
Total Recordable Frequency Rates (TRFR) – All workplace accidents, excluding only those that require simple first aid treatment.
Investing in people
In line with our new business priorities, in 2006 we continued to strengthen the capabilities of our leadership teams and those working in consumer marketing and customer development. For example, the marketing function ran nearly 500 training sessions in 2006 covering around 40% of people in marketing. A new global approach to learning was designed to develop general leadership and professional skills, which we will roll out to all managers during 2007.
In 2006 we also introduced our People Vitality programme to enhance the personal well-being and effectiveness of our people at work. Hindustan Lever initiated a programme which assesses employees' body mass, blood pressure, cholesterol and blood sugar levels. It also provides nutrition, health and exercise advice. Over 10 000 employees have taken part so far, and each will be followed up annually.
Several leadership teams – including the Unilever Executive – also took part in a well-being programme. Each received an individual health check, which was then used to design a personal plan to improve their nutrition, fitness and mental resilience.
Action on HIV/AIDS
We have long-standing HIV/AIDS support programmes in sub-Saharan Africa, and in 2006 our Kericho tea estate in Kenya won the Excellence in the Workplace award from the Global Business Coalition on HIV/AIDS. Building on our work in Africa, we have implemented a more comprehensive approach to programme development in other regions too, with a particular focus on a number of Asian countries.
In September 2006, following a successful 12-month pilot of a scheme involving Unilever and four other multinationals, the World Economic Forum published its 'Guidelines to Protect your Supply Chain', outlining ways for businesses to work with smaller suppliers on awareness of HIV/AIDS prevention and treatment.
Living our values
Each year, country chairmen provide positive assurance that their business adheres to our Code of Business Principles. The Code provides a clear set of ethical guidelines to enable employees to uphold our business integrity. Our prohibition against the giving or receiving of bribes is absolute. Moreover, we make clear that no employee will be penalised for any loss of business resulting from the rejection of bribery. The Code is communicated to all employees and translated into 47 languages, with processes in place to raise concerns and report breaches. In 2006, we dismissed 68 people (compared to 66 in 2005) for breaches of our Code.
We abide by core ILO labour standards and our Code sets out requirements on protecting labour rights. In 2006 we surveyed our 35 largest businesses which showed that our youngest employees, aged 15, are in Germany, Switzerland and the US, compliant with local legislation.
In all these countries, wages paid by Unilever exceed the minimum wage established by the relevant national authority. 40% of our eligible employees are members of trade unions.
Age of youngest employees 2006
Based on our 35 largest businesses.
Age Country
15 Germany, Switzerland, United States
16 United Kingdom
17 China, South Africa
18 Argentina, Australia, Brazil, Colombia, Czech Republic,
France, Indonesia, Ireland, Japan, Mexico, Netherlands,
Spain, Sweden, Turkey
* In addition to the recordable fatality data in the chart, where such accidents may be deemed associated with our operations, Unilever requires its organisations to report fatal accidents involving members of the public, and those which occur at third-party contract manufacturers where they are producing goods and services for Unilever.
In common with the other companies in our industrial sector, these incidents are only reportable internally.
** In line with industry best practice, we include in our definition of an 'employee', temporary staff and contractors who work under our direct supervision.
Pengaruh sinetron dalam hidup sehari-hari
LATAR BELAKANG
Dewasa ini kita dapat melihat sendiri secara langsung, betapa maraknya tayangan sinetron dan reality show dalam program acara televisi yang ditayangkan stasiun televeisi swasta di tanah air. Tayangan sinetron dan reality show memiliki berbagai unsur.
Unsur yang dominan antara lain, mempunyai peran protagonis dan antagonis. Dalam hal ini pemeran atau aktor protagonis diharapkan dapat memunculkan kesan berbudi luhur dan bersikap selayaknya manusia yang tidak mendendam dan selalu berusaha menanamkan kesan bahwa perbuatan jahat selalu harus dibalas dengan perbuatan baik.
Akan tetapi, pemeran atau aktor antagonis mempunyai kesan agar para pemirsa juga terpancing emosinya dalam mengikuti jalan cerita pada sinetron tersebut. Para pemeran dianggap berhasil memerankan tokoh apabila para pemirsa dapat terpancing emosinya. Dalam hal ini, pemeran protagonis memunculkan kesan kebaikan pada pemirsa sedangkan pemeran antagonis bisa serta merta dibenci bahkan dalam kehidupan nyata.
PERMASALAHAN UTAMA
Tayangan-tayangan seperti ini menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Bagi sebagian masyarakat yang menyukai tayangan seperti ini, contoh ibu rumah tangga, para muda-mudi dan anak kecil, merasa terhibur dengan alur cerita, para aktor, dan betapa emosi mereka ikut terpancing dengan adanya tontonan ini.
Akan tetapi bagi mereka yang berbanding terbalik dengan masyarakat yang pro, alasan mereka untuk menentang tayangan sinetron adalah kurang mendidik, menampilkan adegan-adegan kekerasan yang transparan, dan juga memicu oara muda-mudi dan anak kecil untuk meniru adegan-adegan di dalamnya, walaupun ada adegan baik, tapi tidak tertutup kemungkinan bagi mereka untuk meniru adegan kekerasan dan kekejaman.
Walaupun begitu, masyarakat yang kontra dengan tayangan ini menyesalkan jam tayang yang diplot oleh stasiun televisi sebagai waktu prime time. Prime time adalah pada saat sebagian besar masyarakat berada di rumah untuk menonton televisi, biasanya antara jam 7-10 malam. Hal ini disayangkan, mengingat apabila tontonan ini mendapat kategori Dewasa, maka seharusnya dapat ditayangkan lebih malam, dengan asumsi bahwa muda-mudi dan anak-anak kecil sudah beristirahat.
Sementara itu, pihak stasiun televisi beralasan pada jam-jam prime time, rating dan share mereka meningkat tajam, yang akan dipicu juga dengan banyaknya sponsor yang menayangkan iklan-iklan pada waktu jeda tayangan sinetron tersebut. Di bulan Ramadhan ini, banyak beterbaran sinetron-sinetron religi yang menyelipkan moral yang baik. Seperti contoh Cinta Fitri season Ramadhan.
SINOPSIS SINETRON CINTA FITRI SEASON RAMADHAN
ANAK adalah harta yang tidak ternilai harganya. Tidak heran bila kehadiran seorang anak akan semakin merekatkan tali kasih di antara suami dan istri. Bahagia akan kehadiran seorang anak kini dirasakan pula oleh Fitri dan Farrel. Setelah melalui perjuangan panjang, buah cinta Fitri dan Farrel akhirnya lahir dengan selamat.
Farrel lantas meminta Bu Lia memberikan nama untuk anak mereka. Telanjur malu lantaran selalu bersikap jahat pada Farrel, Bu Lia pun menolak permintaan itu. Namun Farrel meyakinkan kalau permintaan itu merupakan suatu kehormatan, karena Bu Lia adalah ibu yang sangat dicintai dan dihormati oleh Farrel. Penuh haru, Bu Lia akhirnya memberi nama Raffa Emeraldi Hutama untuk anak Fitri dan Farrel.
Setelah kelahiran Raffa,Bu Lia memohon Farrel agar kembali ke rumah Hutama. Perempuan separuh baya itu mengingatkan Farrel akan amanat Hutama sebelum meninggal, menjaga keluarga dan Retro dari apa pun juga. Apa boleh buat, Farrel dan Fitri tak kuasa menolak permintaan Bu Lia.
Sebaliknya, Mischa dan Faiz terkejut melihat kepulangan Farrel, Fitri, dan Oma ke rumah. Terlebih ketika Bu Lia meminta Farrel untuk kembali bekerja di Retro. Dengan segala cara, Mischa dan Faiz berusaha menghancurkan kepercayaan Bu Lia pada Farrel. Dengan sengaja, Mischa meninggalkan petunjuk yang membuat Farrel mencurigai Faiz kalau dia bukan anak kandung Hutama.
Lantaran penasaran, Farrel dan Fitri mencoba menyelidiki hal tersebut. Bu Lia yang mengetahui niat mereka menjadi marah dan meminta Farrel dan Fitri agar tidak lagi memfitnah serta membuat keluarganya cerai berai. Di sisi lain, Faiz yang licik selalu berusaha terlihat sebagai anak baik dan saleh di depan Bu Lia.
Sementara itu, Bram yang merasa selalu diremehkan oleh Mischa dan Faiz berhasil menemukan master CCTV ketika Pak Hutama meninggal dunia di Retro. Bram shock saat mengetahui kalau pembunuh yang sebenarnya adalah Mischa dan Faiz. Dasar serakah, bukannya membongkar kedok Mischa dan Faiz, Bram malah memeras mereka demi keuntungan pribadi. Nahas bagi Maya, saat akan membongkar semua kedok Faiz, dirinya mendapat celaka hingga mengakibatkan kelumpuhan.
Di bagian lain, Aldo kehilangan Moza yang diculik Tristan pada saat mereka berlibur ke vila. Setelah melalui perjalanan panjang dan berliku, Aldo berhasil menemukan Moza yang ternyata adalah istri Tristan.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan dilakukan Farrel dan Fitri untuk membongkar kedok Mischa dan Faiz? Mungkinkah Mischa dan Faiz akan membiarkan Farrel, Fitri, dan Raffa hidup bahagia?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Aldo dan Moza?
BERIKUT CUPLIKAN ADEGAN DALAM CINTA FITRI SEASON RAMADHAN
PEMBAHASAN
Dari sinopsis cerita diatas, Fitri dan Farrel sebagai dua tokoh utama selalu berusaha menanamkan nilai-nilai soleh dalam kehidupan mereka. Hal ini ditandai dengan Farrel yang memberi kesempatan kepada Bu Lia untuk memberi nama bagi buah hatinya dengan Fitri. Apalagi mengingat begitu berlikunya kehidupan Farrel dan Fitri, hal ini patut diacungi jempol.
Akan tetapi, manusia biasa memang tidak bisa luput dari dengki dan iri hati. Mischa dan Faiz yang tidak menginginkan Farrel, Fitri, Raffa, dan Bu Lia kembali ke rumah Hutama, berusaha menjalankan rencana jahat yang telah mereka susun. Rencana itu adalah dengan memfitnah Farrel agar mencurigai bahwa Faiz bukanlah anak kandung Hutama.
Apalagi saat Bram menemukan master CCTV yang memuat rekaman pembunuhan Pak Hutama, yang ternyata pelakunya adalah Mischa dan Faiz sendiri. Mereka adalah dua orang yang berpura-pura baik dan berbudi luhur, akan tetapi di belakangnya mereka adalah dua orang yang kejam dan tidak segan-segan melakukan pembunuhan demi tercapainya tujuan mereka.
Dalam sinopsis cerita ini, pemirsa diajak untuk ikut berkecimpung dalam pusaran permasalahan yang dialami keluarga Farrel dan Fitri. Sudah pasti pemirsa terpancing untuk terus mengikuti cerita sinetron ini hingga tamat episodenya.
Selain diharapkan dapat mengisi waktu, tayangan sinetron religi juga dimaksudkan bagi masyarakat untuk dapat menanamkan dan mencermati bahwa di bulan penuh berkah ini, Allah tidak pernah meninggalkan umatnya, asalkan umat manusia bertawakal dan tetap takut kepadaNya.
Menurut saya sinetron Cinta Fitri season Ramadhan ini tidak sepenuhnya mengumbar hal-hal yang negatif, melainkan kita dapat melihat sisi positif dalam sifat manusia, dalam kasus ini Farrel dan Fitri agar selalu berusaha menanamkan kebaikan dan cinta dalam setiap aspek kehidupan mereka, dan selalu membalas setiap perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Niscaya hal tersebut akan membuat orang yang berniat jahat menjadi malu dan jera, dan tidak akan mengulangi lagi perbuatannya tersebut.
Hal-hal negatif dalam sinetron ini, misalnya seperti pembunuhan Pak Hutama yang dilakukan oleh Mischa dan Faiz, sebenarnya harus dapat diseleksi dengan baik dalam pemahaman kita.
KESIMPULAN
Tayangan sinetron dan reality show memang akan selalu memicu perdebatan di dalam masyarakat. Akan tetapi perlu diingat bahwa tidak selalu setiap sinetron atau reality show merupakan tayangan tidak bermutu yang tidak boleh ditayangkan. Semuanya akan tetap kembali kepada individu-individu yang menonton tayangan ini. Hendaknya setiap adegan dalam sinetron atau reality show diartikan secara harafiah dan jangan ditelan bulat-bulat. Dramatisasi dalam setiap tayangan memang diperlukan sehingga dapat membuat tayangan dan jalan cerita menjadi lebih hidup dan tidak monoton. Selain itu, dalam upaya pencegahan untuk tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, hendaknya pihak stasiun televisi menempatkan tayangan tersebut pada jam-jam malam atau pada saat para muda-mudi dan anak-anak sudah beristirahat.
Setiap perbuatan pasti mempunyai dua sisi yang bertolak belakang, dan jangan pernah setiap perkataan dan perbuatan ditelan bulat-bulat tanpa dicerna secara signifikan terlebih dahulu.
Prepared by
Yohanna Tjahyadi
MKT 11-1C
2007110352
Dewasa ini kita dapat melihat sendiri secara langsung, betapa maraknya tayangan sinetron dan reality show dalam program acara televisi yang ditayangkan stasiun televeisi swasta di tanah air. Tayangan sinetron dan reality show memiliki berbagai unsur.
Unsur yang dominan antara lain, mempunyai peran protagonis dan antagonis. Dalam hal ini pemeran atau aktor protagonis diharapkan dapat memunculkan kesan berbudi luhur dan bersikap selayaknya manusia yang tidak mendendam dan selalu berusaha menanamkan kesan bahwa perbuatan jahat selalu harus dibalas dengan perbuatan baik.
Akan tetapi, pemeran atau aktor antagonis mempunyai kesan agar para pemirsa juga terpancing emosinya dalam mengikuti jalan cerita pada sinetron tersebut. Para pemeran dianggap berhasil memerankan tokoh apabila para pemirsa dapat terpancing emosinya. Dalam hal ini, pemeran protagonis memunculkan kesan kebaikan pada pemirsa sedangkan pemeran antagonis bisa serta merta dibenci bahkan dalam kehidupan nyata.
PERMASALAHAN UTAMA
Tayangan-tayangan seperti ini menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Bagi sebagian masyarakat yang menyukai tayangan seperti ini, contoh ibu rumah tangga, para muda-mudi dan anak kecil, merasa terhibur dengan alur cerita, para aktor, dan betapa emosi mereka ikut terpancing dengan adanya tontonan ini.
Akan tetapi bagi mereka yang berbanding terbalik dengan masyarakat yang pro, alasan mereka untuk menentang tayangan sinetron adalah kurang mendidik, menampilkan adegan-adegan kekerasan yang transparan, dan juga memicu oara muda-mudi dan anak kecil untuk meniru adegan-adegan di dalamnya, walaupun ada adegan baik, tapi tidak tertutup kemungkinan bagi mereka untuk meniru adegan kekerasan dan kekejaman.
Walaupun begitu, masyarakat yang kontra dengan tayangan ini menyesalkan jam tayang yang diplot oleh stasiun televisi sebagai waktu prime time. Prime time adalah pada saat sebagian besar masyarakat berada di rumah untuk menonton televisi, biasanya antara jam 7-10 malam. Hal ini disayangkan, mengingat apabila tontonan ini mendapat kategori Dewasa, maka seharusnya dapat ditayangkan lebih malam, dengan asumsi bahwa muda-mudi dan anak-anak kecil sudah beristirahat.
Sementara itu, pihak stasiun televisi beralasan pada jam-jam prime time, rating dan share mereka meningkat tajam, yang akan dipicu juga dengan banyaknya sponsor yang menayangkan iklan-iklan pada waktu jeda tayangan sinetron tersebut. Di bulan Ramadhan ini, banyak beterbaran sinetron-sinetron religi yang menyelipkan moral yang baik. Seperti contoh Cinta Fitri season Ramadhan.
SINOPSIS SINETRON CINTA FITRI SEASON RAMADHAN
ANAK adalah harta yang tidak ternilai harganya. Tidak heran bila kehadiran seorang anak akan semakin merekatkan tali kasih di antara suami dan istri. Bahagia akan kehadiran seorang anak kini dirasakan pula oleh Fitri dan Farrel. Setelah melalui perjuangan panjang, buah cinta Fitri dan Farrel akhirnya lahir dengan selamat.
Farrel lantas meminta Bu Lia memberikan nama untuk anak mereka. Telanjur malu lantaran selalu bersikap jahat pada Farrel, Bu Lia pun menolak permintaan itu. Namun Farrel meyakinkan kalau permintaan itu merupakan suatu kehormatan, karena Bu Lia adalah ibu yang sangat dicintai dan dihormati oleh Farrel. Penuh haru, Bu Lia akhirnya memberi nama Raffa Emeraldi Hutama untuk anak Fitri dan Farrel.
Setelah kelahiran Raffa,Bu Lia memohon Farrel agar kembali ke rumah Hutama. Perempuan separuh baya itu mengingatkan Farrel akan amanat Hutama sebelum meninggal, menjaga keluarga dan Retro dari apa pun juga. Apa boleh buat, Farrel dan Fitri tak kuasa menolak permintaan Bu Lia.
Sebaliknya, Mischa dan Faiz terkejut melihat kepulangan Farrel, Fitri, dan Oma ke rumah. Terlebih ketika Bu Lia meminta Farrel untuk kembali bekerja di Retro. Dengan segala cara, Mischa dan Faiz berusaha menghancurkan kepercayaan Bu Lia pada Farrel. Dengan sengaja, Mischa meninggalkan petunjuk yang membuat Farrel mencurigai Faiz kalau dia bukan anak kandung Hutama.
Lantaran penasaran, Farrel dan Fitri mencoba menyelidiki hal tersebut. Bu Lia yang mengetahui niat mereka menjadi marah dan meminta Farrel dan Fitri agar tidak lagi memfitnah serta membuat keluarganya cerai berai. Di sisi lain, Faiz yang licik selalu berusaha terlihat sebagai anak baik dan saleh di depan Bu Lia.
Sementara itu, Bram yang merasa selalu diremehkan oleh Mischa dan Faiz berhasil menemukan master CCTV ketika Pak Hutama meninggal dunia di Retro. Bram shock saat mengetahui kalau pembunuh yang sebenarnya adalah Mischa dan Faiz. Dasar serakah, bukannya membongkar kedok Mischa dan Faiz, Bram malah memeras mereka demi keuntungan pribadi. Nahas bagi Maya, saat akan membongkar semua kedok Faiz, dirinya mendapat celaka hingga mengakibatkan kelumpuhan.
Di bagian lain, Aldo kehilangan Moza yang diculik Tristan pada saat mereka berlibur ke vila. Setelah melalui perjalanan panjang dan berliku, Aldo berhasil menemukan Moza yang ternyata adalah istri Tristan.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan dilakukan Farrel dan Fitri untuk membongkar kedok Mischa dan Faiz? Mungkinkah Mischa dan Faiz akan membiarkan Farrel, Fitri, dan Raffa hidup bahagia?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Aldo dan Moza?
BERIKUT CUPLIKAN ADEGAN DALAM CINTA FITRI SEASON RAMADHAN
PEMBAHASAN
Dari sinopsis cerita diatas, Fitri dan Farrel sebagai dua tokoh utama selalu berusaha menanamkan nilai-nilai soleh dalam kehidupan mereka. Hal ini ditandai dengan Farrel yang memberi kesempatan kepada Bu Lia untuk memberi nama bagi buah hatinya dengan Fitri. Apalagi mengingat begitu berlikunya kehidupan Farrel dan Fitri, hal ini patut diacungi jempol.
Akan tetapi, manusia biasa memang tidak bisa luput dari dengki dan iri hati. Mischa dan Faiz yang tidak menginginkan Farrel, Fitri, Raffa, dan Bu Lia kembali ke rumah Hutama, berusaha menjalankan rencana jahat yang telah mereka susun. Rencana itu adalah dengan memfitnah Farrel agar mencurigai bahwa Faiz bukanlah anak kandung Hutama.
Apalagi saat Bram menemukan master CCTV yang memuat rekaman pembunuhan Pak Hutama, yang ternyata pelakunya adalah Mischa dan Faiz sendiri. Mereka adalah dua orang yang berpura-pura baik dan berbudi luhur, akan tetapi di belakangnya mereka adalah dua orang yang kejam dan tidak segan-segan melakukan pembunuhan demi tercapainya tujuan mereka.
Dalam sinopsis cerita ini, pemirsa diajak untuk ikut berkecimpung dalam pusaran permasalahan yang dialami keluarga Farrel dan Fitri. Sudah pasti pemirsa terpancing untuk terus mengikuti cerita sinetron ini hingga tamat episodenya.
Selain diharapkan dapat mengisi waktu, tayangan sinetron religi juga dimaksudkan bagi masyarakat untuk dapat menanamkan dan mencermati bahwa di bulan penuh berkah ini, Allah tidak pernah meninggalkan umatnya, asalkan umat manusia bertawakal dan tetap takut kepadaNya.
Menurut saya sinetron Cinta Fitri season Ramadhan ini tidak sepenuhnya mengumbar hal-hal yang negatif, melainkan kita dapat melihat sisi positif dalam sifat manusia, dalam kasus ini Farrel dan Fitri agar selalu berusaha menanamkan kebaikan dan cinta dalam setiap aspek kehidupan mereka, dan selalu membalas setiap perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Niscaya hal tersebut akan membuat orang yang berniat jahat menjadi malu dan jera, dan tidak akan mengulangi lagi perbuatannya tersebut.
Hal-hal negatif dalam sinetron ini, misalnya seperti pembunuhan Pak Hutama yang dilakukan oleh Mischa dan Faiz, sebenarnya harus dapat diseleksi dengan baik dalam pemahaman kita.
KESIMPULAN
Tayangan sinetron dan reality show memang akan selalu memicu perdebatan di dalam masyarakat. Akan tetapi perlu diingat bahwa tidak selalu setiap sinetron atau reality show merupakan tayangan tidak bermutu yang tidak boleh ditayangkan. Semuanya akan tetap kembali kepada individu-individu yang menonton tayangan ini. Hendaknya setiap adegan dalam sinetron atau reality show diartikan secara harafiah dan jangan ditelan bulat-bulat. Dramatisasi dalam setiap tayangan memang diperlukan sehingga dapat membuat tayangan dan jalan cerita menjadi lebih hidup dan tidak monoton. Selain itu, dalam upaya pencegahan untuk tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, hendaknya pihak stasiun televisi menempatkan tayangan tersebut pada jam-jam malam atau pada saat para muda-mudi dan anak-anak sudah beristirahat.
Setiap perbuatan pasti mempunyai dua sisi yang bertolak belakang, dan jangan pernah setiap perkataan dan perbuatan ditelan bulat-bulat tanpa dicerna secara signifikan terlebih dahulu.
Prepared by
Yohanna Tjahyadi
MKT 11-1C
2007110352
segmentation
Segmentation, Positioning, and Targeting
Our product is set to the ages from 15-65 years old, which is the active ages as already known. Pepsodent Complete Care with a brand new innovation from us gives you the perfect combination between the magnificent protection for 12 hours non stop and also as a strike to a mouth odor. It makes us the complete toothpaste for a family, young and adult ages. We have also created our new positioning that Pepsodent Complete Care is suitable for families and has a complete care that will protect your teeth perfectly.
Objectives
To increase sales up to 20% until January 2009
Our product is set to the ages from 15-65 years old, which is the active ages as already known. Pepsodent Complete Care with a brand new innovation from us gives you the perfect combination between the magnificent protection for 12 hours non stop and also as a strike to a mouth odor. It makes us the complete toothpaste for a family, young and adult ages. We have also created our new positioning that Pepsodent Complete Care is suitable for families and has a complete care that will protect your teeth perfectly.
Objectives
To increase sales up to 20% until January 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
